Meraih medali emas sebagai ikon juara satu atau pemenang dalam kompetisi cabang-cabang olah raga negara-negara ASEAN (Sea Games) tentu tidaklah mudah. Berbagai program dan latihan ekstra intensif digelar oleh Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) dan Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) guna mempersiapkan kemenangan di perhelatan akbar di kawasan Asia Tenggara yang beberapa bulan kemarin dilaksanakan. Alhasil, perolehan medali dan peringkat yang mampu dibawa pulang masih jauh dari yang diharapkan sebagaimana yang telah menjadi target.
Kondisi ini sungguh jauh berbeda dengan begitu mudahnya meraih peringkat kedua pengidap virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang disandang oleh Indonesia sebagai negara anggota ASEAN pengidap virus HIV/AIDS terbesar kedua setelah Thailand. Data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Sumatera Utara menyebutkan bahwa prevalensi HIV di Indonesia mencapai 293.000 kasus, satu peringkat di bawah Thailand yang mencapai 610.000 kasus (waspada, Senin/22-02-2010)
Ada sebuah fenomena unik sekaligus memprihatinkan. Bahwa para pengidap yang dimaksud secara keseluruhan berada dalam usia produktif, yakni kisaran 15-49 tahun. Ditambah lagi dengan mulai munculnya perkiraan bahwa virus yang belum diketemukan obatnya ini kini mulai menjangkiti para ibu rumah tangga dan anak-anak yang seyogiyanya termasuk golongan beresiko rendah.
Mengingat kembali pesan yang disampaikan oleh Muhammad SAW 14 abad yang lalu, “Baik atau buruknya suatu kaum (negeri) ditentukan oleh wanitanya. Jika baik wanita di negeri itu maka baiklah negeri itu. Jika buruk (aqidah dan akhlak) wanita di negeri itu, maka buruk pula lah negeri itu” (disarikan dari Hadhits Shohih Bukhari).
Melalui realita yang disandingkan dengan hadhits di atas, tentu saja kita tidak bisa mengklaim secara sepihak bahwa masifnya penularan virus HIV/AIDS semata-mata karena kesalahan kaum wanita (pelacur) saja. Juga tidaklah bijaksana mana kala kita menyalahkan kaum pria hidung belang sebagai golongan yang paling bertanggung jawab pada masalah ini. Buktinya, mencuatnya segunung alasan atas berlangsungnya faktor utama penyebab menularnya virus ini (seks bebas-red) seperti alasan ekonomi, keterbatasan lapangan kerja dan sebagainya seolah merupakan alasan-alasan yang umum, lazim, dan tidak asing melewati kedua telinga kita. Alhasil kita menjadi seperti orang-orang yang berkepribadian ganda. Di satu sisi kita mengutuk jenis virus misterius ini, tapi di sisi lain kita menganggap wajar terhadap segala aksi dan perilaku yang menjadi penyebabnya. Adakah yang salah dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebutuhan hidup yang menggunung? Tentu saja tidak. Yang salah adalah mana kala kita menjadikan kondisi-kondisi sosial tadi sebagai kambing hitam atas pemakluman perilaku penyimpangan sosial yang merupakan akar dari permasalahan penyebaran virus bak monster ini.
Menelaah Penyebab Guna Mencegah Penularan HIV/AIDS Lebih Jauh
1. Walaupun ditinjau dari jenisnya virus HIV/AIDS merupakan bagian dari konsentrasi ilmu kesehatan, namun penyelesaian dan penaggulangannya tidak bisa dititikberatkan pada sisi medis semata. Karena eksistensi HIV/AIDS sebagai penyakit berawal dari penyimpangan sosial, etika dan norma agama. Hal ini dapat dilihat secara nyata bahwa penularan serta penyebaran virus ini secara pesat terjadi bukan pada negara-negara miskin atau negara yang tingkat kesehatannya rendah, melainkan pada negara-negara yang memiliki kontrol sosial dan etika keagamaan yang rendah. Lihatlah Amerika dan negara-negara Eropa. Sungguh kita tidak pernah meragukan kemajuan teknologi serta ilmu kesehatan mereka, namun ternyata benua yang paling banyak pengidap HIV/AIDS adalah Amerika dan Eropa.
2. Kampanye “sadar kondom” yang didengungkan para aktivis peduli AIDS di setiap peringatan hari AIDS sedunia ternyata tidak memiliki arti apa, bahkan semakin membuat permasalahan penyebaran HIV/AIDS kian marak. Karena berdasarkan penelitian ahli sains mengatakan bahwa kondom terbuat dari jenis karet sintetik yang memiliki rongga berdiameter halus, sehingga berfungsi menahan laju cairan sperma, tapi tidak menahan laju virus penghancur kekebalan tubuh tersebut. Yang lebih parah adalah, seolah-olah kampanye “sadar kondom” ini justru mengajak masyarakat (terkhusus generasi muda) untuk lebih gila lagi melakukan aktivitas seks bebas, asalkan memakai kondom. Sungguh memprihatinkan!
3. Kontrol sosial tentu saja tidak bisa kita pahami sebagai 100 persen urusan hukum normatif semata. Bahkan seyogiyanya, kontrol sosial lebih mengedepankan campur tangan dan kepedulian masyarakat sebagai ujung tombak kehidupan berbangsa dan bernegara terhadap segala kondisi yang berkembang di lingkungan sekitarnya. Modernisasi serta westernisasi yang demikian derasnya mempengaruhi masyarakat kita dewasa ini, khususnya generasi muda, lambat laun menggiring kita kepada pola kehidupan bebas dan cuek serta turunnya kepedulian kita terhadap orang lain yang ada di sekitar kita.
4. Westernisasi tentu saja tidak membawa arus pemikiran tunggal yang mampu mengubah pola kehidupan masyarakat berkepedulian tinggi ke arah kebebasan dan serba cuek, tetapi juga terdapat arus-arus lain yang disinyalir merupakan konsep penghancur kekokohan suatu bangsa, yakni tergerogoti mentalitas pemudanya melalui berbagai asupan yang melenakan. Tersebutlah contoh budaya hidup eksklusif, pola hidup foya-foya, dunia hiburan yang tiada mengenal etika, sampai tertinggalkannya nilai-nilai agama bagi para korbannya. Ditambah lagi ketidaksiapan kita dalam memasuki era informasi tiada batas seperti sekarang ini, maka sah lah hancurnya sekat-sekat pemisah yang menjadi alasan tersebarkannya kerusakan moral tersebut.
Sebagai renungan bersama, tentu kita masih ingat kisah-kisah para pendahulu kita, orang tua kita atau kakek-nenek kita. Pada saat itu kita sangat jarang mendapatkan cerita bahwa mereka hidup dalam serba kecukupan. Lalu mengapa sekarang kita merasa gempar di saat kita hidup dalam garis pas-pasan? Tidakkah kita terlalu pengecut untuk mengizinkan putri-putri atau isteri-isteri kita menjadi pelacur demi memenuhi kebutuhan hidup yang memang tak pernah ada cukupnya? Lalu sadarkah kita bahwa putri atau isteri kita atau bahkan diri kita sendiri telah dan/atau kelak akan menjadi salah seorang penghancur generasi dan bangsa ini?
Di sinilah pentingnya digalakkan kembali pemahaman atas nilai-nilai keagamaan pada semua ummat beragama di negeri ini. Bahwa sebagai suatu bangsa, kita memiliki sebuah tanggung jawab besar yang kita pikul secara bersama-sama, agama apa pun yang kita anut. Yakni mempertahankan serta membangun masa depan yang lebih baik untuk anak-cucu kita generasi mendatang. Kalau tidak bisa, maka standarnya kita kurangi sedikit, yakni setidaknya kita tidak menghantarkan generasi kita pada sebuah kondisi peradaban yang carut marut tanpa kejelasan masa depan bagi mereka.
Wallahu a’lam bish shawab
15 Maret 2010
08 Maret 2010
PENGHAPUSAN DISKRIMINASI, JAUH PANGGANG DARI API
“Saya tegaskan sekali lagi, di era reformasi sekarang ini tidak boleh ada perlakuan yang diskriminatif terhadap siapa pun termasuk umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa”. Petikan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam sambutan perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2561 di Jakarta Convention Center, Sabtu/20-2-10 (Waspada, Minggu 21-2-10).
Sejarah pergerakan kemerdekaan hingga pembangunan Indonesia tentu tidak lekang dari eksistensi warga Cina yang berabad-abad sebelum pergolakan perang memang sudah mulai berdatangan ke Nusantara ini dengan tujuan utamanya berdagang sambil menyebarkan agama. Bukti ini bisa kita lihat pada akulturasi kebudayaan yang ada pada masyarakat Betawi yang sangat kental dengan kebudayaan Cina. Tionghoa sebagai mayoritas golongan masyarakat Cina yang berdomisili di Indonesia tentu tidak bisa disama-artikan dengan umat Konghucu yang juga merupakan keyakinan yang dipeluk oleh masyarakat Cina, karena banyak di antara masyarakat Cina yang memilih agama lain yang diakui oleh negara seperti Kristen, Buddha, Hindu, bahkan Islam.
Pernyataan SBY dalam sambutan di atas jelas hanyalah aksi cari muka dan tebar pesona. Seolah-olah pemerintah yang sedang dikepalai olehnya saat ini begitu apresiatif dan bahkan aktif untuk mensejajarkan hak-hak kenegaraan kaum Tionghoa dan Konghucu dengan warga Pribumi lainnya. Sedangkan ungkapan Diskriminatif yang dilontarkan oleh SBY adalah sangat salah alamat dan terkesan provokatif. Karena bila mau jujur, sesungguhnya aparat pemerintah tidak pernah bertindak diskriminatif kepada kaum Tionghoa atau Konghucu. Bahkan kaum Tionghoa dan Konghucu secara nyata di lapangan lebih mendapatkan perlakuan di luar kewajaran dan eksklusif dari pemerintah melalui aparaturnya dari pada saat melayani kaum Pribumi. Permasalahannya bukan pada Tionghoa, Konghucu atau Pribumi, melainkan kaum berduit atau Borjuis dan menjamurnya aparatur mata duitan di berbagai level instansi pemerintahan.
Pernyataan SBY di atas seolah-olah ingin menafikkan fakta di lapangan bahwa permasalahan diskriminatif bukan datang karena sebab akar suku atau ras atau agama, melainkan kebobrokan mental para aparatur negara di mana SBY sendiri yang menjadi pimpinan tertingginya. Tentu saja ini adalah sebuah upaya penggiringan pola pikir yang sangat berbahaya bagi masyarakat. Kalimat provokatif seperti itu tidak layak dilontarkan oleh seorang kepala negara. Karena hal itu bisa menimbulkan perpecahan di dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Selain dari pada itu, tidak adanya aspek jera dari aplikasi hukum terhadap berbagai tindak dan pelaku korupsi – termasuk penyuapan – menyebabkan praktek-praktek kotor yang menjadi cikal-bakal diskriminasi pelayanan ini tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Maka sebagai rakyat miskin kita jangan terlalu banyak berharap bila urusan kita akan segera direspon mana kala kita tidak mampu meyakinkan petugas di instansi yang bersangkutan bahwa kita mampu membayar mahal untuk cepatnya proses yang sedang kita urusi itu. Sekarang mari kita jujur pada diri kita sendiri, pernahkah kita melihat kaum Tionghoa atau Konghucu dipermainkan seperti itu oleh aparat? Warga Tionghoa atau masyarakat Pribumi-kah yang sering dihadapkan pada perlakuan diskriminasi pelayanan seperti yang dikatakan oleh SBY tadi? Jawabannya hanya ada dua. Pertama, masyarakat Pribumi-lah yang sebenarnya sering mendapat perlakuan diskriminasi pelayanan dan dipersulit segala urusannya (karena tidak punya uang). Kedua, kaum Borjuis-lah (yang didominasi oleh warga Tionghoa) yang selalu mendapat fasilitas kemudahan urusan di berbagai instansi pemerintahan.
Jadi jelas, permasalahan diskriminasi pelayanan atau hak-hak kenegaraan bukan dilihat dari sisi suku, ras atau agama, melainkan dekadansi akhlak dari aparatur penyelenggara pemerintahan itu sendiri, termasuklah di dalamnya segunung kebobrokan sistem pengawasan dari pemerintah terhadap aparatnya.
Sementara di luar itu, bila terdapat beberapa prasyarat tambahan administratif yang dikenakan kepada kaum pendatang tentu saja itu tidak boleh dipandang sebagai bentuk diskriminasi, melainkan harus dilihat sebagai bagian dari tertib penyelenggaraan administrasi negara. Sebagai seorang kepala negara selayaknya SBY memahami hal itu, sehingga ke depannya sebagai kepala negara tidak lagi memiliki wawasan yang sempit dan hanya bertumpu pada masukan dan informasi para bawahan yang secara realitas kita saksikan pernyataan-pernyataannya justru disikapi dengan reaksi kekecewaan dari masyarakat yang dipimpinnya.
Upaya menghapus prilaku diskriminatif tentu sejalan dengan janji SBY di masa kampanye yakni memberantas korupsi. Karena ditenggarai bahwa tindakan pelayanan yang diskriminatif lahir dari para aparat yang berwatak korup di samping kesempatan yang terbuka begitu lebar. Jadi sesungguhnya masalah diskriminasi ini tidak ada kaitannya dengan suku atau golongan tertentu. Sedangkan upaya untuk mengatasinya pun bukanlah harus melalui pembuatan produk baruseperti Undang-Undang dan sebagainya, karena solusinya sudah inhern dengan upaya yang dicanangkan Pemerintah dalam kaitan pemberantasan korupsi. Tinggal keseriusan Pemerintah sendirilah yang akan akan membuktikannya.
Sesungguhnya negeri ini sangat berpotensi untuk bangkit dan berjaya karena termilikinya berjuta potensi di dalamnya. Namun negeri ini juga sangat gampang hancurnya, karena meratanya kebobrokan moral dan akhlak dari para aparat penyelenggara negara itu sendiri. Sementara kebobrokan moral dari kita sebagai masyarakat justru akan menjadi faktor yang akan mempercepat hancurnya sendi-sendi kenegaraan dari bangsa yang kita cintai ini. Tidak terbayangkan akan makan apa dan tinggal di mana generasi kita di masa mendatang bila mana hari ini kita masih tetap asyik dengan urusan kita masing-masing tanpa menghiraukan permasalahan moralitas bangsa ini.
Wallahu a’lam bish shawab
Sejarah pergerakan kemerdekaan hingga pembangunan Indonesia tentu tidak lekang dari eksistensi warga Cina yang berabad-abad sebelum pergolakan perang memang sudah mulai berdatangan ke Nusantara ini dengan tujuan utamanya berdagang sambil menyebarkan agama. Bukti ini bisa kita lihat pada akulturasi kebudayaan yang ada pada masyarakat Betawi yang sangat kental dengan kebudayaan Cina. Tionghoa sebagai mayoritas golongan masyarakat Cina yang berdomisili di Indonesia tentu tidak bisa disama-artikan dengan umat Konghucu yang juga merupakan keyakinan yang dipeluk oleh masyarakat Cina, karena banyak di antara masyarakat Cina yang memilih agama lain yang diakui oleh negara seperti Kristen, Buddha, Hindu, bahkan Islam.
Pernyataan SBY dalam sambutan di atas jelas hanyalah aksi cari muka dan tebar pesona. Seolah-olah pemerintah yang sedang dikepalai olehnya saat ini begitu apresiatif dan bahkan aktif untuk mensejajarkan hak-hak kenegaraan kaum Tionghoa dan Konghucu dengan warga Pribumi lainnya. Sedangkan ungkapan Diskriminatif yang dilontarkan oleh SBY adalah sangat salah alamat dan terkesan provokatif. Karena bila mau jujur, sesungguhnya aparat pemerintah tidak pernah bertindak diskriminatif kepada kaum Tionghoa atau Konghucu. Bahkan kaum Tionghoa dan Konghucu secara nyata di lapangan lebih mendapatkan perlakuan di luar kewajaran dan eksklusif dari pemerintah melalui aparaturnya dari pada saat melayani kaum Pribumi. Permasalahannya bukan pada Tionghoa, Konghucu atau Pribumi, melainkan kaum berduit atau Borjuis dan menjamurnya aparatur mata duitan di berbagai level instansi pemerintahan.
Pernyataan SBY di atas seolah-olah ingin menafikkan fakta di lapangan bahwa permasalahan diskriminatif bukan datang karena sebab akar suku atau ras atau agama, melainkan kebobrokan mental para aparatur negara di mana SBY sendiri yang menjadi pimpinan tertingginya. Tentu saja ini adalah sebuah upaya penggiringan pola pikir yang sangat berbahaya bagi masyarakat. Kalimat provokatif seperti itu tidak layak dilontarkan oleh seorang kepala negara. Karena hal itu bisa menimbulkan perpecahan di dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Selain dari pada itu, tidak adanya aspek jera dari aplikasi hukum terhadap berbagai tindak dan pelaku korupsi – termasuk penyuapan – menyebabkan praktek-praktek kotor yang menjadi cikal-bakal diskriminasi pelayanan ini tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Maka sebagai rakyat miskin kita jangan terlalu banyak berharap bila urusan kita akan segera direspon mana kala kita tidak mampu meyakinkan petugas di instansi yang bersangkutan bahwa kita mampu membayar mahal untuk cepatnya proses yang sedang kita urusi itu. Sekarang mari kita jujur pada diri kita sendiri, pernahkah kita melihat kaum Tionghoa atau Konghucu dipermainkan seperti itu oleh aparat? Warga Tionghoa atau masyarakat Pribumi-kah yang sering dihadapkan pada perlakuan diskriminasi pelayanan seperti yang dikatakan oleh SBY tadi? Jawabannya hanya ada dua. Pertama, masyarakat Pribumi-lah yang sebenarnya sering mendapat perlakuan diskriminasi pelayanan dan dipersulit segala urusannya (karena tidak punya uang). Kedua, kaum Borjuis-lah (yang didominasi oleh warga Tionghoa) yang selalu mendapat fasilitas kemudahan urusan di berbagai instansi pemerintahan.
Jadi jelas, permasalahan diskriminasi pelayanan atau hak-hak kenegaraan bukan dilihat dari sisi suku, ras atau agama, melainkan dekadansi akhlak dari aparatur penyelenggara pemerintahan itu sendiri, termasuklah di dalamnya segunung kebobrokan sistem pengawasan dari pemerintah terhadap aparatnya.
Sementara di luar itu, bila terdapat beberapa prasyarat tambahan administratif yang dikenakan kepada kaum pendatang tentu saja itu tidak boleh dipandang sebagai bentuk diskriminasi, melainkan harus dilihat sebagai bagian dari tertib penyelenggaraan administrasi negara. Sebagai seorang kepala negara selayaknya SBY memahami hal itu, sehingga ke depannya sebagai kepala negara tidak lagi memiliki wawasan yang sempit dan hanya bertumpu pada masukan dan informasi para bawahan yang secara realitas kita saksikan pernyataan-pernyataannya justru disikapi dengan reaksi kekecewaan dari masyarakat yang dipimpinnya.
Upaya menghapus prilaku diskriminatif tentu sejalan dengan janji SBY di masa kampanye yakni memberantas korupsi. Karena ditenggarai bahwa tindakan pelayanan yang diskriminatif lahir dari para aparat yang berwatak korup di samping kesempatan yang terbuka begitu lebar. Jadi sesungguhnya masalah diskriminasi ini tidak ada kaitannya dengan suku atau golongan tertentu. Sedangkan upaya untuk mengatasinya pun bukanlah harus melalui pembuatan produk baruseperti Undang-Undang dan sebagainya, karena solusinya sudah inhern dengan upaya yang dicanangkan Pemerintah dalam kaitan pemberantasan korupsi. Tinggal keseriusan Pemerintah sendirilah yang akan akan membuktikannya.
Sesungguhnya negeri ini sangat berpotensi untuk bangkit dan berjaya karena termilikinya berjuta potensi di dalamnya. Namun negeri ini juga sangat gampang hancurnya, karena meratanya kebobrokan moral dan akhlak dari para aparat penyelenggara negara itu sendiri. Sementara kebobrokan moral dari kita sebagai masyarakat justru akan menjadi faktor yang akan mempercepat hancurnya sendi-sendi kenegaraan dari bangsa yang kita cintai ini. Tidak terbayangkan akan makan apa dan tinggal di mana generasi kita di masa mendatang bila mana hari ini kita masih tetap asyik dengan urusan kita masing-masing tanpa menghiraukan permasalahan moralitas bangsa ini.
Wallahu a’lam bish shawab
04 Maret 2010
PILKADA KOTA MEDAN, MENCARI PEMIMPIN ATAU PEMENANG?
Oleh : Surya Dharma, S.Sos*
“Sebagai barometer multi-dimensi pembangunan di propinsi Sumatera Utara, kota Medan menjadi begitu popular untuk dijadikan standar kemajuan bagi daerah-daerah lainnya di Sumatera Utara. Maka, kesuksesan kota Medan melaksanakan Pilkada dalam artian demokrasi berikut tahapan-tahapannya akan turut memberikan warna dalam pelaksanaan Pilkada pada daerah-daerah lain di sekitarnya”.
Demokrasi yang merupakan gagasan pikiran masyarakat banyak yang ditandai dengan mendominasinya hak-hak dasar masyarakat untuk sebisa mungkin diformulasikan dalam regulasi yang mendukungnya. Selain itu, demokrasi juga merupakan manifestasi atas peradaban suatu masyarakat yang seiring perjalanan waktu kemudian menjadi salah satu tolak ukur yang sangat sering muncul dalam wacana-wacana pembangunan daerah, terutama pada daerah yang sedang membangun pilar-pilar keutuhan demokrasi dan birokasi dalam bingkai tatanan nilai-nilai berbangsa dan bernegara yang komprehensif.
Dalam kerangka itulah segala jenis Pemilihan Umum dilaksanakan di negeri ini. Salah satu jenis Pemilihan Umum yang paling sering diselenggarakan di negeri ini tentu saja adalah Pemilihan Umum Kepala Daerah atau yang lebih populer disebut dengan singkatan “Pilkada”, yang Insya Allah akan diselenggarakan di kota Medan yang kita cintai ini pada bulan mei mendatang.
Sebelas nama calon sudah mulai menampakkan keseriusannya melalui pendaftaran mereka sebagai calon walikota dan calon wakil walikota ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan. Berbagai alat peraga beserta simbol-simbolnya juga seolah tak mau kalah ikut menyemarakkan pesta domokrasi lima tahunan ini. Beragam asosiasi dan organisasi pun tak ketinggalan mulai sibuk mensosialisasikan dukungannya pada pasangan calon/kandidat tertentu. Di antara calon-calon yang bertarung kali ini terlihat sederetan nama-nama pemain lama yang kini muncul kembali, namun pemain baru pun tidak kalah optimis untuk ikut bertarung dalam memperebutkan kursi nomor 1 di kota Medan ini.
Sebagai sebuah catatan yang berasal dari pengamatan serta penelitian di lapangan, terdapat sebuah kesan negatif - dalam (hampir) setiap pelaksanaan Pemilu dan Pilkada - bahwa dengan sebelah mata tertutup, para kandidat sering kali menganggap masyarakat yang merupakan objek utama dalam Pilkada sebagai barisan semut hitam yang setiap saat selalu setia mendengar dan melaksanakan titah dari sang raja. Merasa sebagai seorang raja, sang kandidat pun dengan tenang dan yakin memproduksi program-program yang di dalamnya 100% atensi masyarakat menjadi penentunya. Lalu segala cara pun dilakukan demi terpenuhinya aspek penentu tadi. Maka menjanjikan dan memberikan sejumlah uang kepada masyarakat untuk menghadiri kegiatan A, B, C, dan seterusnya seakan menjadi realitas pandangan mata yang memang salah namun sudah umum untuk diketahui dalam setiap even Pemilihan.
Terkait dengan hal tersebut, ada pesan - segaligus warning – buat para kandidat yang akan bertarung. Bahwa secara sadar atau tidak, ada sisi yang terlewatkan oleh para kandidat-kandidat tersebut, yakni sisi moral kemanusiaan yang berdiri di atas nilai-nilai kebenaran. Artinya, masyarakat juga mampu melihat dengan mata hatinya mana yang benar dan mana yang tidak benar. Mana yang layak dipilih dan mana pula yang lebih layak untuk dicemoohi. Dicemoohi dalam artian politik, yakni diambil uangnya namun mereka (masyarakat) tetap memilih kandidat pilihan hatinya.
Kompleksitas permasalahan kehidupan yang dirasakan masyarakat kelas menengah ke bawah pun merupakan aspek mendasar yang tak akan mampu dikaburkan atau dihapus dengan janji dan rekayasa apa pun. Birokrasi yang berbelit untuk masyarakat kecil namun lancar dan singkat untuk kaum bojuis, bobroknya moral para pejabat dan aparatur negara yang sesungguhnya disumpah untuk melayani masyarakat, realitas yang berbanding terbalik antara amanat Undang-Undang untuk menghadirkan pendidikan yang terjangkau bagi seluruh masyarakat dengan mencekiknya biaya pendidikan anak-anak kita. Tentu saja fenomena yang membukit ini bukanlah kondisi yang terjadi selama beberapa hari belakangan ini saja, melainkan kita hampir tidak pernah melewati hari tanpa kehadiran realitas yang menyesakkan dada tersebut. Sehingga, sedari detik ini pun kita sudah dapat memprediksikan apa-apa saja gebrakan dan program yang akan dilakukan oleh para kandidat pemburu “MEDAN 1” tersebut.
Namun kita memahami sebagaimana pola pemahaman yang baik dan benar, bahwa merubah sistem jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada memindahkan sebuah gunung atau arus air sungai. Kehadiran beberapa tokoh muda dan bermunculannya partai-partai baru pun langsung mendapat apresiasi positif dari masyarakat yang sudah muak dengan budaya lama para politikus busuk yang hanya menjadikan mereka sebagai alat mainan di saat dibutuhkan saja, namun setelah itu dicampakkan begitu saja.
Kini pertarungan Pilkada Kota Medan tidak hanya akan dimeriahkan oleh banyaknya pasangan calon dan wakilnya saja, namun turut juga diramaikan oleh program-program ‘tebar pesona’ dari masing-masing kandidat dengan model dan kreasi yang beragam pula sebagai bentuk perimbangan atas beragamnya opini serta persepsi masyarakat terhadap Pilkada dan calon peserta Pilkada itu sendiri. Dari sini lah kita akan bisa melihat siapa sesungguhnya yang memiliki karakteristik seorang pemimpin dan siapa pula yang hanya memiliki ‘libido politik’, sehingga dengan jelas memperlihatkan ambisinya untuk menjadi pemenang dalam Pilkada kali ini.
Sekali lagi, segala bentuk pemilihan yang diselenggarakan, pada dasarnya hanyalah untuk kepentingan masyarakat. Dan pada akhirnya masyarakat pulalah yang akan menentukan kepada siapa kita akan menyerahkan kursi terhormat nomor satu di kota Medan ini, kepada seorang Pemimpinkah, atau kepada (orang yang berambisi untuk menjadi) Pemenang?
Ladies and Gentlemen, tentukan pilihanmu sekarang…!!!
Wallahu a’lam bish shawab
*Alumni FISIP UISU, Mantan Peneliti LIPSSUM
“Sebagai barometer multi-dimensi pembangunan di propinsi Sumatera Utara, kota Medan menjadi begitu popular untuk dijadikan standar kemajuan bagi daerah-daerah lainnya di Sumatera Utara. Maka, kesuksesan kota Medan melaksanakan Pilkada dalam artian demokrasi berikut tahapan-tahapannya akan turut memberikan warna dalam pelaksanaan Pilkada pada daerah-daerah lain di sekitarnya”.
Demokrasi yang merupakan gagasan pikiran masyarakat banyak yang ditandai dengan mendominasinya hak-hak dasar masyarakat untuk sebisa mungkin diformulasikan dalam regulasi yang mendukungnya. Selain itu, demokrasi juga merupakan manifestasi atas peradaban suatu masyarakat yang seiring perjalanan waktu kemudian menjadi salah satu tolak ukur yang sangat sering muncul dalam wacana-wacana pembangunan daerah, terutama pada daerah yang sedang membangun pilar-pilar keutuhan demokrasi dan birokasi dalam bingkai tatanan nilai-nilai berbangsa dan bernegara yang komprehensif.
Dalam kerangka itulah segala jenis Pemilihan Umum dilaksanakan di negeri ini. Salah satu jenis Pemilihan Umum yang paling sering diselenggarakan di negeri ini tentu saja adalah Pemilihan Umum Kepala Daerah atau yang lebih populer disebut dengan singkatan “Pilkada”, yang Insya Allah akan diselenggarakan di kota Medan yang kita cintai ini pada bulan mei mendatang.
Sebelas nama calon sudah mulai menampakkan keseriusannya melalui pendaftaran mereka sebagai calon walikota dan calon wakil walikota ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan. Berbagai alat peraga beserta simbol-simbolnya juga seolah tak mau kalah ikut menyemarakkan pesta domokrasi lima tahunan ini. Beragam asosiasi dan organisasi pun tak ketinggalan mulai sibuk mensosialisasikan dukungannya pada pasangan calon/kandidat tertentu. Di antara calon-calon yang bertarung kali ini terlihat sederetan nama-nama pemain lama yang kini muncul kembali, namun pemain baru pun tidak kalah optimis untuk ikut bertarung dalam memperebutkan kursi nomor 1 di kota Medan ini.
Sebagai sebuah catatan yang berasal dari pengamatan serta penelitian di lapangan, terdapat sebuah kesan negatif - dalam (hampir) setiap pelaksanaan Pemilu dan Pilkada - bahwa dengan sebelah mata tertutup, para kandidat sering kali menganggap masyarakat yang merupakan objek utama dalam Pilkada sebagai barisan semut hitam yang setiap saat selalu setia mendengar dan melaksanakan titah dari sang raja. Merasa sebagai seorang raja, sang kandidat pun dengan tenang dan yakin memproduksi program-program yang di dalamnya 100% atensi masyarakat menjadi penentunya. Lalu segala cara pun dilakukan demi terpenuhinya aspek penentu tadi. Maka menjanjikan dan memberikan sejumlah uang kepada masyarakat untuk menghadiri kegiatan A, B, C, dan seterusnya seakan menjadi realitas pandangan mata yang memang salah namun sudah umum untuk diketahui dalam setiap even Pemilihan.
Terkait dengan hal tersebut, ada pesan - segaligus warning – buat para kandidat yang akan bertarung. Bahwa secara sadar atau tidak, ada sisi yang terlewatkan oleh para kandidat-kandidat tersebut, yakni sisi moral kemanusiaan yang berdiri di atas nilai-nilai kebenaran. Artinya, masyarakat juga mampu melihat dengan mata hatinya mana yang benar dan mana yang tidak benar. Mana yang layak dipilih dan mana pula yang lebih layak untuk dicemoohi. Dicemoohi dalam artian politik, yakni diambil uangnya namun mereka (masyarakat) tetap memilih kandidat pilihan hatinya.
Kompleksitas permasalahan kehidupan yang dirasakan masyarakat kelas menengah ke bawah pun merupakan aspek mendasar yang tak akan mampu dikaburkan atau dihapus dengan janji dan rekayasa apa pun. Birokrasi yang berbelit untuk masyarakat kecil namun lancar dan singkat untuk kaum bojuis, bobroknya moral para pejabat dan aparatur negara yang sesungguhnya disumpah untuk melayani masyarakat, realitas yang berbanding terbalik antara amanat Undang-Undang untuk menghadirkan pendidikan yang terjangkau bagi seluruh masyarakat dengan mencekiknya biaya pendidikan anak-anak kita. Tentu saja fenomena yang membukit ini bukanlah kondisi yang terjadi selama beberapa hari belakangan ini saja, melainkan kita hampir tidak pernah melewati hari tanpa kehadiran realitas yang menyesakkan dada tersebut. Sehingga, sedari detik ini pun kita sudah dapat memprediksikan apa-apa saja gebrakan dan program yang akan dilakukan oleh para kandidat pemburu “MEDAN 1” tersebut.
Namun kita memahami sebagaimana pola pemahaman yang baik dan benar, bahwa merubah sistem jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada memindahkan sebuah gunung atau arus air sungai. Kehadiran beberapa tokoh muda dan bermunculannya partai-partai baru pun langsung mendapat apresiasi positif dari masyarakat yang sudah muak dengan budaya lama para politikus busuk yang hanya menjadikan mereka sebagai alat mainan di saat dibutuhkan saja, namun setelah itu dicampakkan begitu saja.
Kini pertarungan Pilkada Kota Medan tidak hanya akan dimeriahkan oleh banyaknya pasangan calon dan wakilnya saja, namun turut juga diramaikan oleh program-program ‘tebar pesona’ dari masing-masing kandidat dengan model dan kreasi yang beragam pula sebagai bentuk perimbangan atas beragamnya opini serta persepsi masyarakat terhadap Pilkada dan calon peserta Pilkada itu sendiri. Dari sini lah kita akan bisa melihat siapa sesungguhnya yang memiliki karakteristik seorang pemimpin dan siapa pula yang hanya memiliki ‘libido politik’, sehingga dengan jelas memperlihatkan ambisinya untuk menjadi pemenang dalam Pilkada kali ini.
Sekali lagi, segala bentuk pemilihan yang diselenggarakan, pada dasarnya hanyalah untuk kepentingan masyarakat. Dan pada akhirnya masyarakat pulalah yang akan menentukan kepada siapa kita akan menyerahkan kursi terhormat nomor satu di kota Medan ini, kepada seorang Pemimpinkah, atau kepada (orang yang berambisi untuk menjadi) Pemenang?
Ladies and Gentlemen, tentukan pilihanmu sekarang…!!!
Wallahu a’lam bish shawab
*Alumni FISIP UISU, Mantan Peneliti LIPSSUM
18 Februari 2010
iblis mengunjungi NABI SAW
Kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba - tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: "Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku. "
Rasulullah bersabda:"Tahukah kalian siapa yang memanggil?"
Kami menjawab: "Allah dan rasulNya yang lebih tahu."
Beliau melanjutkan, "itu iblis, laknat Allah bersamanya."
Umar bin Khattab berkata: "izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah"
Nabi menahannya:" Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik."
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapa 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: "Salam untukmu Muhammad,... . Salam untukmu para hadirin..."
Rasulullah SAW lalu menjawab: "Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu? "
Iblis menjawab: "Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa."
"Siapa yang memaksamu?"
"Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: "Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin." Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku..Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh."
Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: "Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?"
Iblis segera menjawab: " Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci."
"Siapa selanjutnya? "
" Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT."
"lalu siapa lagi?"
"Orang Aliim dan wara' (Loyal)"
"Lalu siapa lagi?"
"Orang yang selalu bersuci."
"Siapa lagi?"
"Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain."
"Apa tanda kesabarannya? "
"Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang - orang yang sabar."
"Selanjutnya apa?"
"Orang kaya yang bersyukur."
"apa tanda kesyukurannya? "
"Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya."
"Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?"
"Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam."
"Umar bin Khattab?"
"Demi Allah, setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur."
"Usman bin Affan?"
"Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya."
"Ali bin Abi Thalib?"
"Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu." (Ali bin Abi Thalib selau berd zi kir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
"Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?"
"Aku merasa panas dingin dan gemetar."
"Kenapa?"
"Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat."
"Jika seorang umatku berpuasa?"
"Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka."
"Jika ia berhaji?"
"Aku seperti orang gila."
"Jika ia membaca al-Quran?"
"Aku merasa meleleh laksana timah di atas api."
"Jika ia bersedekah?"
"Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji."
"mengapa bisa begitu?"
"sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya."
"apa yang dapat mematahkan pinggangmu?"
"suara kuda perang di jalan Allah."
"Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?"
"taubat orang yang bertaubat."
"apa yang dapat membakar hatimu?"
"istighfar di waktu siang dan malam."
"Apa yang dapat mencoreng wajahmu?"
"sedekah yang diam - diam."
"Apa yang dapat menusuk matamu?"
"Shalat fajar."
"Apa yang dapat memukul kepalamu?"
"Shalat berjamaah."
"Apa yang paling mengganggumu? "
"Majelis para ulama."
"bagaimana cara makanmu?"
"dengan tangan kiri dan jariku."
"dimanakah kau menaungi anak - anakmu di musim panas?"
"di bawah kuku manusia."
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya : "Siapa temanmu wahai Iblis?"
"Pemakan riba."
"Siapa sahabatmu?"
"Pezina."
"Siapa teman tidurmu?"
"Pemabuk."
"Siapa tamumu?"
"Pencuri."
"Siapa utusanmu?"
"Tukang sihir."
"Apa yang membuatmu gembira?"
"Bersumpah dengan cerai."
"Siapa kekasihmu?"
"Orang yang meninggalkan shalat jumat"
"Siapa manusia yang paling membahagiakanmu? "
"orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja."
Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
Rasulullah SAW lalu bersabda : "Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu. "
Iblis segera menimpali:" tidak, tidak... tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas."
"Siapa orang yang ikhlas menurutmu?"
"Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku."
Iblis Dibantu oleh 70.000 anak - anaknya
Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.
Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak - anak muda, sebagian untuk menganggu orang - orang tua, sebagian untuk menggangu wanita - wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.
Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia lainnya, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.
Syaithan juga berkata,"keluarkan tanganmu", lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.
mereka, anak - anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? Bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang d id oakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia ber zina, membunuh dan kufur.
Cara Iblis Menggoda
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. Barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar - benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah kegemaranku.
Ghibah(gosip) dan Namimah(Adu domba) kesenanganku.
Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata - kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak - anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya ke mukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya 'lihat kiri dan kananmu', iapun menoleh. pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan 'shalatmu tidak sah'
Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.
Dan ia pun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedangkan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. Aku katakan padaknya, 'kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.'
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?"
10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT
"berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?"
"10 macam"
"apa saja?"
"Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, "berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan." (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.
Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah berfirman, "Orang - orang boros adalah saudara - saudara syaithan." (QS Al-Isra : 27)
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, "silahkan", aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata : "wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun,aku hanya bisa membisikan dan menggoda."
jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun.
sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.
jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini.
kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :"mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT" (QS Hud :118 - 119) juga membaca, "Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku" (QS Al-Ahzab :38)
Iblis lalu berkata: "wahai Rasul Allah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk - mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan aku tak berbohong."
Rasulullah bersabda:"Tahukah kalian siapa yang memanggil?"
Kami menjawab: "Allah dan rasulNya yang lebih tahu."
Beliau melanjutkan, "itu iblis, laknat Allah bersamanya."
Umar bin Khattab berkata: "izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah"
Nabi menahannya:" Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik."
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapa 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: "Salam untukmu Muhammad,... . Salam untukmu para hadirin..."
Rasulullah SAW lalu menjawab: "Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu? "
Iblis menjawab: "Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa."
"Siapa yang memaksamu?"
"Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: "Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin." Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku..Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh."
Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: "Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?"
Iblis segera menjawab: " Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci."
"Siapa selanjutnya? "
" Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT."
"lalu siapa lagi?"
"Orang Aliim dan wara' (Loyal)"
"Lalu siapa lagi?"
"Orang yang selalu bersuci."
"Siapa lagi?"
"Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain."
"Apa tanda kesabarannya? "
"Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang - orang yang sabar."
"Selanjutnya apa?"
"Orang kaya yang bersyukur."
"apa tanda kesyukurannya? "
"Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya."
"Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?"
"Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam."
"Umar bin Khattab?"
"Demi Allah, setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur."
"Usman bin Affan?"
"Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya."
"Ali bin Abi Thalib?"
"Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu." (Ali bin Abi Thalib selau berd zi kir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
"Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?"
"Aku merasa panas dingin dan gemetar."
"Kenapa?"
"Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat."
"Jika seorang umatku berpuasa?"
"Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka."
"Jika ia berhaji?"
"Aku seperti orang gila."
"Jika ia membaca al-Quran?"
"Aku merasa meleleh laksana timah di atas api."
"Jika ia bersedekah?"
"Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji."
"mengapa bisa begitu?"
"sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya."
"apa yang dapat mematahkan pinggangmu?"
"suara kuda perang di jalan Allah."
"Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?"
"taubat orang yang bertaubat."
"apa yang dapat membakar hatimu?"
"istighfar di waktu siang dan malam."
"Apa yang dapat mencoreng wajahmu?"
"sedekah yang diam - diam."
"Apa yang dapat menusuk matamu?"
"Shalat fajar."
"Apa yang dapat memukul kepalamu?"
"Shalat berjamaah."
"Apa yang paling mengganggumu? "
"Majelis para ulama."
"bagaimana cara makanmu?"
"dengan tangan kiri dan jariku."
"dimanakah kau menaungi anak - anakmu di musim panas?"
"di bawah kuku manusia."
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya : "Siapa temanmu wahai Iblis?"
"Pemakan riba."
"Siapa sahabatmu?"
"Pezina."
"Siapa teman tidurmu?"
"Pemabuk."
"Siapa tamumu?"
"Pencuri."
"Siapa utusanmu?"
"Tukang sihir."
"Apa yang membuatmu gembira?"
"Bersumpah dengan cerai."
"Siapa kekasihmu?"
"Orang yang meninggalkan shalat jumat"
"Siapa manusia yang paling membahagiakanmu? "
"orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja."
Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
Rasulullah SAW lalu bersabda : "Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu. "
Iblis segera menimpali:" tidak, tidak... tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas."
"Siapa orang yang ikhlas menurutmu?"
"Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku."
Iblis Dibantu oleh 70.000 anak - anaknya
Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.
Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak - anak muda, sebagian untuk menganggu orang - orang tua, sebagian untuk menggangu wanita - wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.
Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia lainnya, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.
Syaithan juga berkata,"keluarkan tanganmu", lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.
mereka, anak - anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? Bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang d id oakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia ber zina, membunuh dan kufur.
Cara Iblis Menggoda
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. Barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar - benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah kegemaranku.
Ghibah(gosip) dan Namimah(Adu domba) kesenanganku.
Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata - kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak - anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya ke mukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya 'lihat kiri dan kananmu', iapun menoleh. pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan 'shalatmu tidak sah'
Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.
Dan ia pun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedangkan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. Aku katakan padaknya, 'kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.'
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?"
10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT
"berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?"
"10 macam"
"apa saja?"
"Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, "berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan." (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.
Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah berfirman, "Orang - orang boros adalah saudara - saudara syaithan." (QS Al-Isra : 27)
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, "silahkan", aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata : "wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun,aku hanya bisa membisikan dan menggoda."
jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun.
sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.
jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini.
kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :"mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT" (QS Hud :118 - 119) juga membaca, "Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku" (QS Al-Ahzab :38)
Iblis lalu berkata: "wahai Rasul Allah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk - mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan aku tak berbohong."
08 Februari 2010
Bleeding Me
By : Metallica
I'm diggin' my way
I'm diggin' my way to somethin'
I'm diggin' my way to somethin' better
I'm pushin' to stay
I'm pushin' to stay with somethin'
I'm pushin' to stay with somethin' better
I'm sowing the seeds
I'm sowing the seeds I take
I'm sowing the seeds I take for granted
This thorn in my side
This thorn in my side is from the tree
This thorn in my side is from the tree I've planted
It tears me and I bleed
And I bleed
Caught under wheels roll
I take the leash
I'm bleeding me
Can't stop to save my soul
I take the leash that's bleeding me
I'm bleeding me
I can't take it
Caught under wheels roll
Oh, the bleeding of me
Of me
The bleeding of me
Caught under wheels roll
I take the leash
I'm bleeding me
Can't stop to save my soul
I take the leash that's bleeding me
I'm bleeding me
I can't take it
Caught under wheels roll
Oh, the bleeding of me
Oh, the bleeding of me
I am the beast that bleeds the feast
I am the blood
I am release
Come make me pure
Bleed me a cure
I'm caught, I'm caught, I'm caught under
Caught under wheels roll
I take that lease
I'm bleeding me
Can't stop to save my soul
I take the leash that's bleeding me
I'm bleeding me
I can't take it
I can't take it
I can't take it
Oh, the bleeding of me
I'm diggin' my way
I'm diggin' my way to somethin'
I'm diggin' my way to somethin' better
I'm pushin' to stay
I'm pushin' to stay with somethin'
I'm pushin' to stay with somethin' better
With somethin' better
I'm diggin' my way
I'm diggin' my way to somethin'
I'm diggin' my way to somethin' better
I'm pushin' to stay
I'm pushin' to stay with somethin'
I'm pushin' to stay with somethin' better
I'm sowing the seeds
I'm sowing the seeds I take
I'm sowing the seeds I take for granted
This thorn in my side
This thorn in my side is from the tree
This thorn in my side is from the tree I've planted
It tears me and I bleed
And I bleed
Caught under wheels roll
I take the leash
I'm bleeding me
Can't stop to save my soul
I take the leash that's bleeding me
I'm bleeding me
I can't take it
Caught under wheels roll
Oh, the bleeding of me
Of me
The bleeding of me
Caught under wheels roll
I take the leash
I'm bleeding me
Can't stop to save my soul
I take the leash that's bleeding me
I'm bleeding me
I can't take it
Caught under wheels roll
Oh, the bleeding of me
Oh, the bleeding of me
I am the beast that bleeds the feast
I am the blood
I am release
Come make me pure
Bleed me a cure
I'm caught, I'm caught, I'm caught under
Caught under wheels roll
I take that lease
I'm bleeding me
Can't stop to save my soul
I take the leash that's bleeding me
I'm bleeding me
I can't take it
I can't take it
I can't take it
Oh, the bleeding of me
I'm diggin' my way
I'm diggin' my way to somethin'
I'm diggin' my way to somethin' better
I'm pushin' to stay
I'm pushin' to stay with somethin'
I'm pushin' to stay with somethin' better
With somethin' better
Langganan:
Postingan (Atom)
