Sebuah bis yang penuh dengan para politikus keluar dari jalan dan menabrak sebuah pohon besar di sebuah ladang milik seorang petani tua.
Setelah menyelidiki apa yang terjadi, petani tua itu menggali sebuah lubang dan mengubur mayat-mayat politikus itu secara massal.
Beberapa hari kemudian, seorang sherif lokal lewat dan bertanya kepada petani tua itu:
"Apakah mereka semua mati?"
Petani tua itu menjawab:
"Begini Tuan, beberapa dari mereka berkata bahwa mereka belum mati. Tapi anda tahu sendiri kan, betapa seringnya politikus itu berbohong...???"
18 April 2009
17 April 2009
Salah Ambil Parasut
Dalam sebuah pesawat terbang dari Dhili menuju Denpasar, terdapat 3 orang penumpang, yakni seorang anggota pramuka, pastor asal Timor-timur dan Harmoko yang pada saat itu masih menjabat sebagai Ketua MPR-RI. Tiba-tiba terdengar dari suara pilot lewat pengeras suara.
"Dalam beberapa detik pesawat kita akan jatuh. Tapi sayang kita hanya punya 3 parasut. Saya akan mengambil 1 karena saya harus melaporkan kecelakaan yang melibatkan tokoh penting ini".
Sang pilot pun langsung loncat.
Melihat pilot dengan gesit meloncat, Harmoko buru-buru mengambil sebuah parasut yang ada di dekatnya.
"Saya perlu menyelamatkan diri, sebab saya bertugas memimpin Sidang Umum MPR untuk menggolkan Soeharto sebagai Presiden RI".
Harmoko pun langsung terjun menyusul sang pilot.
Pastor pun kemudian menatap si pramuka kecil,
"Nak," ujar sang Pastor,
"Saya sudah puas menjalani kehidupan ini. Sedangkan kamu masih harus menjalaninya. Gunakanlah parasut yang tersisa ini, semoga Tuhan menyertaimu, Nak..." kata sang Pastor sedih.
"Jangan bersedih Pastor," ujar si pramuka,
"Kita masih punya 2 parasut kok,"
"Yang diambil Pak Harmoko tadi bukan parasut, tapi ransel saya..."
"Dalam beberapa detik pesawat kita akan jatuh. Tapi sayang kita hanya punya 3 parasut. Saya akan mengambil 1 karena saya harus melaporkan kecelakaan yang melibatkan tokoh penting ini".
Sang pilot pun langsung loncat.
Melihat pilot dengan gesit meloncat, Harmoko buru-buru mengambil sebuah parasut yang ada di dekatnya.
"Saya perlu menyelamatkan diri, sebab saya bertugas memimpin Sidang Umum MPR untuk menggolkan Soeharto sebagai Presiden RI".
Harmoko pun langsung terjun menyusul sang pilot.
Pastor pun kemudian menatap si pramuka kecil,
"Nak," ujar sang Pastor,
"Saya sudah puas menjalani kehidupan ini. Sedangkan kamu masih harus menjalaninya. Gunakanlah parasut yang tersisa ini, semoga Tuhan menyertaimu, Nak..." kata sang Pastor sedih.
"Jangan bersedih Pastor," ujar si pramuka,
"Kita masih punya 2 parasut kok,"
"Yang diambil Pak Harmoko tadi bukan parasut, tapi ransel saya..."
HORAS BAH...!!!
BBM naik,
hidup tambah SIMANUNGKALIT,
harga-harga NAEK,
SAGALA PANDAPOTAN MANURUNG,
banyak SIHOTANG...
Hidup bagaikan mendaki TOBING,
tak ada lagi HARAHAP,
Kepala pusing sampai SIBUTAR-BUTAR,
rambut rontok dan nyaris POLTAK...
Jumlah rakyat miskin sudah PANGARIBUAN,
anak-anak menangis MARPAUNG-PAUNG,
otak sudah SITOMPUL,
tapi kita masih diminta sabar SITORUS...
jangan putus HARAHAP, katanya.
Mintalah PARLINDUNGAN,
supaya BONAR-BONAR selamat...
BUTET dah...!!!
hidup tambah SIMANUNGKALIT,
harga-harga NAEK,
SAGALA PANDAPOTAN MANURUNG,
banyak SIHOTANG...
Hidup bagaikan mendaki TOBING,
tak ada lagi HARAHAP,
Kepala pusing sampai SIBUTAR-BUTAR,
rambut rontok dan nyaris POLTAK...
Jumlah rakyat miskin sudah PANGARIBUAN,
anak-anak menangis MARPAUNG-PAUNG,
otak sudah SITOMPUL,
tapi kita masih diminta sabar SITORUS...
jangan putus HARAHAP, katanya.
Mintalah PARLINDUNGAN,
supaya BONAR-BONAR selamat...
BUTET dah...!!!
Polisi, ABRI dan BIA
Kepolisian, ABRI dan Badan Intelijen BIA saling menyombongkan bahwa merekalah yang terbaik dalam menangkap penjarah yang sedang marak pada saat itu. Pemerintah merasa perlu untuk melakukan tes terhadap hal ini.
Dilepaskanlah seekor kelinci ke dalam hutan dan ketiga kelompok pengikut tes di atas harus berusaha menangkapnya. BIA masuk ke hutan. Mereka menempatkan informan-informan di setiap pelosok hutan itu. Mereka menanyai setiap pohon, rumput, semak dan binatang di hutan tersebut. Tidak ada pelosok hutan yang tidak diinterogasi oleh mereka.
Setelah satu bulan penyelidikan secara menyeluruh, akhirnya BIA mengambil kesimpulan bahwa kelinci tersebut tidak pernah ada, alias issue.
ABRI masuk ke hutan. Setelah satu bulan kerja tanpa hasil, mereka akhirnya kehilangan kesabaran dan membakar hutan sehingga setiap makhluk hidup di dalamnya terpanggang tanpa terkecuali. Akhirnya kelinci tersebut diketemukan dalam kondisi hitam legam, mati...tentu saja.
Polisi pun masuk ke dalam hutan. 2 jam kemudian mereka keluar dari hutan sambil membawa seekor tikus putih yang telah hancur-hancuran badannya dipukuli.
Tikus itu berteriak-teriak:
"YA...YA... SAYA MENGAKU...!!!
SAYA KELINCI...!!!!
SAYA KELINCI...!!!"
Dilepaskanlah seekor kelinci ke dalam hutan dan ketiga kelompok pengikut tes di atas harus berusaha menangkapnya. BIA masuk ke hutan. Mereka menempatkan informan-informan di setiap pelosok hutan itu. Mereka menanyai setiap pohon, rumput, semak dan binatang di hutan tersebut. Tidak ada pelosok hutan yang tidak diinterogasi oleh mereka.
Setelah satu bulan penyelidikan secara menyeluruh, akhirnya BIA mengambil kesimpulan bahwa kelinci tersebut tidak pernah ada, alias issue.
ABRI masuk ke hutan. Setelah satu bulan kerja tanpa hasil, mereka akhirnya kehilangan kesabaran dan membakar hutan sehingga setiap makhluk hidup di dalamnya terpanggang tanpa terkecuali. Akhirnya kelinci tersebut diketemukan dalam kondisi hitam legam, mati...tentu saja.
Polisi pun masuk ke dalam hutan. 2 jam kemudian mereka keluar dari hutan sambil membawa seekor tikus putih yang telah hancur-hancuran badannya dipukuli.
Tikus itu berteriak-teriak:
"YA...YA... SAYA MENGAKU...!!!
SAYA KELINCI...!!!!
SAYA KELINCI...!!!"
16 April 2009
Gak punya uang untuk memakamkan anak, malah dituduh membunuh...
Ini terjadi Di Jakarta!!! !!
:( Jakarta Jahat Banget
____________ _________ _________ __
Suatu kenyataan betapa egoisnya warga Jakarta, bahkan untuk sesuatu
yang hukumnya Fadhu Kifayah seperti mengubur jenazah. Sebuah kenyataan
yang sangat sedih..
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama
Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan
menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun
dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak
adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si
anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan
memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari
terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke
Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke
puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,
meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan
botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar
bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di
Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya.
Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya,
Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga
Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam
gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada
siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski
termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain
kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai
harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono
mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari
Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya
di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan
bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus
jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka,
biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik.
Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong
Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba
seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu
dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa
ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono
langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi
Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan
menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat
permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang
terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti
kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali
memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan
surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa
ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa
dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga
yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.
Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut
karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi
perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang
seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa.
Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan
tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa
Indonesia”, ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa
itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan
kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini,
pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin
kata Wardah.
Just share...
Sekaligus mengingatkan kalau kita juga punya andil "dosa" atas kejadian ini...
:( Jakarta Jahat Banget
____________ _________ _________ __
Suatu kenyataan betapa egoisnya warga Jakarta, bahkan untuk sesuatu
yang hukumnya Fadhu Kifayah seperti mengubur jenazah. Sebuah kenyataan
yang sangat sedih..
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama
Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan
menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun
dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak
adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si
anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan
memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari
terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke
Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke
puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,
meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan
botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar
bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di
Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya.
Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya,
Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga
Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam
gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada
siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski
termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain
kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai
harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono
mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari
Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya
di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan
bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus
jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka,
biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik.
Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong
Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba
seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu
dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa
ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono
langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi
Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan
menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat
permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang
terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti
kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali
memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan
surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa
ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa
dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga
yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.
Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut
karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi
perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang
seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa.
Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan
tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa
Indonesia”, ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa
itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan
kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini,
pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin
kata Wardah.
Just share...
Sekaligus mengingatkan kalau kita juga punya andil "dosa" atas kejadian ini...
Langganan:
Postingan (Atom)
